Minggu, 23 Oktober 2011

Masalah-Masalah dalam Kuliah Kerja Profesi (KKP)


I. Pendahuluan: dari Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Sebelum dilaksanakannya Kuliah Kerja Profesi (KKP), mulai tahun-tahun 1970an Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Baik KKN maupun KKP sesungguhnya merupakan program-program yang dimaksudkan untuk melatih mahasiswa terjun dan mengalami kegiatan dalam dan bersama masyarakat. Namun demikian latar belakang kedua program tersebut mungkin berbeda.
KKN bagi mahasiswa antara lain dimaksudkan agar mahasiswa berlatih mengenal, memahami, menghadapi dan mencoba mengatasi berbagai masalah yang berkembang dalam masyarakatnya. KKN dilaksanakan di daerah pedesaan karena pedesaan dianggap wilayah yang dianggap asing bagi dunia kampus yang berdiri di lingkungan perkotaan. Dalam pandangan warga pedesaan, mahasiswa adalah ”makhluk asing” yang jarang ditemukan di lingkungan sekitarnya, karena dunia Perguruan Tinggi adalah ”dunia asing” dalam tradisi pendidikan di Indonesia, dibanding pesantren dan padepokan yang sudah mentradisi lebih dahulu, terutama di pedesaan Pulau Jawa.
Selain itu, dunia kampus PT dianggap menjadi ”bandar” bagi masuknya ilmu-ilmu asing, yang datang dari dunia Barat, sehingga ilmu-ilmu tersebut harus ”dibumikan” ke dalam masyarakat yang hendak diatasi permasalahannya. Berbagai ilmu yang diperoleh mahasiswa di PT diujicobakan dalam masyarakat secara multidisiplin dan multidimensional – adakah ilmu-ilmu yang dipelajari di PT tsb bermanfaat bagi masyarakat.
Tambahan pula dengan menjalankan KKN para mahasiswa tsb kelak lulus menjadi sarjana tidak lagi ’kikuk’ menghadapi masyarakatnya, dan diharapkan bekerja tidak semata-mata mencari nafkah, melainkan juga membantu mengatasi masalah-masalah masyarakat bangsanya yang berkembang. Sehingga para sarjana lulusan PT tidak lagi menjadi makhluk terasing di tengah-tengah persoalan bangsanya.

II. Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Kuliah Kerja Profesi (KKP)
Jika dalam KKN mahasiswa dapat langsung terjun dalam masyarakat, kemudian melakukan identifikasi masalah, dan mencoba membantu mengatasi masalah masyarakat bersama para mahasiswa lain dari berbagai latar disiplin ilmu di PT, dalam KKP mahasiswa harus memilih masyarakat yang sesuai bagi profesi atau disiplin ilmu yang hendak dilatihkan atau disumbangkan dan dikembangkan dalam dan bersama masyarakat yang dipilihnya.
Dalam kegiatan-kegiatan KKN, para mahasiswa dari Jurusan Sastra Indonesia, Inggris dan Sejarah, bersama-sama para mahasiswa Peternakan, Psikologi, Hukum, Filsafat, Sipil, Sosial-Politik, Ekonomi dan Kimia, dan bersama masyarakat, dapat bergotong-royong membangun jembatan desa, mendirikan surau, membuat sabun deterjen, menanam rumput gajah, atau menyuntik unggas agar terhindar dari penyakit, atau membantu penyuluhan pemakaian kondom.
Dalam KKP kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan! Dalam KKP perencanaan dan pelaksanaan kegiatan harus sesuai dengan disiplin ilmu dan/atau profesi yang hendak dilatihkan dan dikembangkan dalam dan bersama masyarakat. Sedangkan masyarakatnya pun harus masyarakat yang dapat, atau bahkan siap, memanfaatkan disiplin ilmu atau profesi tertentu atau khusus yang hendak disumbangkan oleh mahasiswa.

III. Kuliah Kerja Profesi (KKP)
Para perancang KKP, saya duga, menganggap bahwa masyarakat Indonesia pada abad ke-21 sudah lebih maju sehingga program Kuliah Kerja Mahasiswa harus sudah meningkat dari KKN (agar mahasiswa tidak terasing dari masyarakatnya) di perempat akhir abad ke-20, ke KKP (agar mahasiswa mengembangkan keahliannya) di awal abad ke-21.
Dengan KKP mahasiswa diharapkan dapat melatih dan mengembangkan keahlian atau profesinya di dalam masyarakat yang dipilih sebagai tempat atau ajang berlatih. Salah satu masalah adalah tidak semua masyarakat dapat sesuai untuk menjadi ajang dari berbagai (calon) profesi, atau yang berhubungan dengan disiplin ilmu tertentu yang hendak dikembangkan mahasiswa. Oleh sebab itu, agar KKP dapat berlangsung dengan baik harus dipilih masyarakat yang sekiranya mahasiswa mudah melatih dan mengembangkan ilmu yang dipilih sebagai pendukung profesinya PT. Masyarakatnya adalah masyarakat yang memang siap menerima KKP dengan kepentingan yang (sangat) khusus, atau profesional.

IV. Masalah-Masalah KKP
Sementara ini masalah-masalah dalam pelaksanaan KKP yang muncul dan penting dibahas untuk diatasi antara lain sebagai berikut.
(1) Penentuan Lokasi: mahasiswa kesulitan mencari lokasi. Dalam hal ini sebaiknya lokasi ditentukan bersama-sama antara dosen (DPL) dan calon mahasiswa KKP. Mahasiswa perlu mendapat bimbingan atau panduan sejak penentuan lokasi.
(2) Aspek Waktu Pelaksanaan. Bulan-bulan Desember-Januari dipandang tidak tepat jika dikaitkan dengan profesi dalam pendidikan sekolah. Dapat dicari waktu lain, sesuai jadual akademik Fakultas dan Universitas.
(3) Daerah Binaan. Dapat bekerjasama dengan lembaga dan instansi lain untuk melaksanakan kegiatan pengembangan profesi di daerah, wilayah atau lokasi (ajang) binaan yang ditawarkan kepada mahasiswa. Ajang binaan ini juga dapat dianggap sebagai laboratorium sosial-budaya.
(4) Deskripsi dan Wewenang Kerja antara Pengelola KKP dan Jurusan dapat disusun sebaik-baiknya.
(5) Perbaikan Buku Panduan
(6) Masalah-masalah lain meliputi
(a) efisiensi kunjungan DPL karena lokasi KKP terpencar;
(b) kapasitas pengalaman dan kompetensi dosen dalam kegiatan DPL;
(c) materi pembekalan hendaknya sesuai kondisi lapangan dan kegiatan yang direncanakan;
(d) honorarium DPL dan pengelola hendaknya sesuai azas kewajaran dan/atau kelayakan, sepanjang sesuai dengan ketentuan administrasi dan keuangan;
(e) laporan kegiatan harus diberi deadline dan dipantau oleh DPL dan pengelola.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar